Sunday, 22 June 2008

Kebenaran Yang Sejati

Yohanes 16: 13 
Tetapi kalau Roh itu datang yaitu Dia yang menyatakan kebenaran tentang Allah, kalian akan dibimbing-Nya untuk mengenal seluruh kebenaran.

Seorang pedagang mempunyai seorang anak lelaki. Suatu ketika sang pedagang pergi untuk berbisnis ke suatu tempat dan pada saat itu rumah sang pedagang diserang oleh kawanan perampok. Kawanan perampok tersebut mengambil semua barang, menculik anak sang pedagang, dan membakar habis rumah sang pedagang. Ketika pedangan tersebut pulang, ia sangat terkejut melihat rumahnya habis terbakar dan didekat rumah ditemukannya seonggok tulang serta abu. Sang pedagang yakin bahwa ini adalah tulang serta abu anaknya, sehingga setiap ia pergi berbisnis ia selalu membawa tulang dan abu tersebut di dalam guci. Suatu saat sang anak berhasil melarikan diri dari kawanan perampok itu dan kembali pulang ke rumah ayahnya. Ketika sampai rumah yang sudah dibangun kembali oleh sang pedagang, ia mengetok-ketok pintunya dan berteriak "ayah aku sudah kembali". Mendengar suara tersebut sang pedagang tidak membukakan pintu karena ia merasa anaknya telah meninggal dan suara itu hanyalah suara anak-anak yang sedang mengganggu dia. Setelah beberapa lama sang anak pun patah semangat dan meninggalkan ayahnya.

Dalam kehidupan ini, banyak orang memegang erat apa yang mereka anggap sebagai kebenaran. Namun, ketika Kebenaran Sejati betul-betul datang, mereka enggan membuka hati. Hal yang sama berlaku di dalam kekristenan kita, tak semua keyakinan diri kita sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Karena itu kita perlu memperbaharui pikiran setiap hari sehingga ketika Kebenaran Sejati itu datang, kita tidak menutup hati kita.

Kesaksian saya:
Saya pernah di dalam hidup saya, saya selalu merasa apa yang saya lakukan itu adalah hal yang benar. Ketika orang di sekeliling saya mengingatkan bahwa itu kurang benar, saya merasa mereka adalah orang-orang yang kolot. Akan tetapi Tuhan itu baik ia menyadarkan saya bahwa tindakan saya tersebut tidak benar dan jujur pertama saya menutup hati akan kata-kata Tuhan sehingga kemudian Tuhan memaksa saya untuk melepaskan tindakan yang saya anggap sebagai kebenaran tersebut. Ketika saya membaca renungan diatas saya merasa Tuhan itu baik dalam kehidupan saya, ia bukannya meninggalkan saya seperti sang anak dalam cerita diatas melainkan menyadarkan saya.  

Note:
Kebenaran di luar Firman Tuhan yang terus kita pegang akan membuat kita sulit untuk menerima Kebenaran Sejati yang Firman Tuhan ajarkan. Karena di luar Firman, tidak ada lagi kebenaran sejati yang hakiki.

0 comments: