Saturday, 28 June 2008

Wibawa Yang Runtuh

I Raja-raja 11: 4 
Sebab pada waktu Salomo sudah tua, istri-istrinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak sepenuh hati berpaut kepada Tuhan Allahnya.

Apakah artinya sebuah wibawa apabila keluarga sendiri tidak dapat menghormatinya. Ada seseorang teman, Ayahnya melarang ia menjalin hubungan dengan seorang pria beristri, namun ia memutuskan untuk kawin lari. Ternyata setelah diselidiki ibunya memilih cerai dan menikah dengan pria lain. Setelah ditanya mengapa ia tidak menghargai keputusan ayahnya, ia hanya menjawab kalau ayahnya memang berwibawa bagi banyak orang akan tetapi di rumah ayahnya kalah oleh ibunya dan hal ini membuat ia menganggap remeh ayahnya.

Sama halnya dengan Salomo. Sampai saat ini tidak ada seorang pun manusia yang dapat menyamai hikmat yang dimiliki oleh Salomo. Ia dapat mengatur kerajaannya begitu rupa mulai dari pegawai sampai perabotan semuanya rapi ditata. Akan tetapi Salomo justru tidak dapat mengatur kehidupan rumah tangganya. Buktinya ia taat saja ketika hatinya dicondongkan ke ilah asing. Dan hal ini membuat keluarga Salomo menjadi berantakan. Sungguh ironis, ia bisa mengatur segalanya kecuali istri dan anaknya.

Apakah artinya kita dapat mengatur dunia namun tidak keluarga kita. Tuhan rindu keluarga kita menjadi berkat dan itu dimulai ketika kita sebagai orang tua mampu membangun keluarga dengan nilai-nilai kebenaran. Jadilah orang tua yang berwibawa tidak di depan orang lain akan tetapi terlebih di depan anak-anak dan pasangan kita.

Kesaksian saya:
Dulu saya merasa papa saya adalah seseorang yang menyebalkan. Ia memang oleh teman-temannya dianggap berwibawa dan ia baik di dalam mengatur pekerjaannya akan tetapi saya justru ingin memberontak terhadap papa saya. Saya sangat benci papa saya, saya merasa ia adalah orang yang menelantarkan keluarganya dan tidak berwibawa sama sekali. Akan tetapi ketika papa saya bertobat dan menerima Tuhan Yesus. Ia mulai menjaga keluarganya, selain itu ia juga mengarahkan kehidupan anak-anaknya. Saat ini saya bersyukur saya punya seorang papa seperti dia, dia adalah papa yang selalu mendukung saya dan mengingatkan saya ketika saya salah. Sekarang di mata saya ia adalah orang yang paling berwibawa.

Note:
Jika kita bisa mengatur rumah tangga dan keluarga kita. Tuhan akan mempercayakan kita tanggung jawab yang lebih besar lagi.

0 comments: