"Semua orang harus menunjukkan sikap hormat terhadap perkawinan, itu sebabnya hendaklah suami istri setia satu sama lain."
Janji pernikahan untuk setia dalam suka dan duka hingga akhir hayat membuat seorang yang bernama Norm tak gentar menghadapi buaya sepanjang 2,5 meter yang menyergap istrinya Wendy. Pasangan ini sedang berkunjung ke sebuah Taman Nasional ketika seekor buaya rawa-rawa menyergap Wendy. Norm langsung menangkap buaya itu, bergulat seraya meninju matanya. Buaya kemudian melepaskan Wendy dan kabur. Aksi Norm ini menjadikannya pahlawan di mata pers. Selain Norm, Wendy juga mendapatkan pujian karena begitu tenang menghadapi situasi. Sekalipun buaya mencengkram dengan giginya, dia tetap tenang. Bahkan setelah lolos, sekalipun cedera Wendy terlihat tenang.
Anda mungkin tidak mengalami peristiwa sedramatis itu, Meski begitu, ada kemungkinan ada sergapan "buaya-buaya" lain terhadap pasangan anda. Misalnya sergapan "buaya" narkotika dan obat-obatan adiktif terhadap pasangan anda. Hal ini terjadi pada pasangan Roy dan Anna. Dalam situasi seperti ini, kesetiaan kita terhadap pasangan mendapat ujian. Maukah kita setia mendampingi dan ikut melepaskan pasangan kita dari cengkraman "buaya"? Ataukah kita memilih lari menyelamatkan diri? Kita patut meneladani Anna yang memilih untuk setia dan mengampuni pasangannya.
Kesaksian saya:
Menurut saya kesetiaan terhadap pasangan itu bukan hanya ketika kita sudah menikah. Ketika kita masih dalam masa pacaran pun kita harus setia terhadap pasangan kita, karena ketika kita dalam masa pacaran saja sudah tidak setia, apakah ketika kita menikah kelak kita akan setia terhadap pasangan kita? Walaupun ada beberapa orang yang ketika pacaran tidak setia akan tetapi ketika menikah ia setia terhadap pasangannya dan kasus seperti ini sangat jarang sekali.
Saya banyak melihat kehidupan teman-teman saya, ada pasangan yang mulai dari pacaran sampai ke jenjang pernikahan mereka tetap setia satu dengan yang lain walaupun salah satu dari mereka berbuat dosa/salah akan tetapi yang lainnya mau mengampuni dan mendampingi. Akan tetapi saya juga banyak melihat pasangan yang udah pacaran cukup lama akan tetapi putus di tengah jalan, mungkin jika permasalah yang dihadapi sangat berat seperti masalah prinsip masih ok karena bagamanapun juga mereka masih dalam tahap pacaran(lain halnya ketika sudah menikah masalah apapun yang terjadi harus diselesaikan bersama) akan tetapi mereka putus karena masalah kecil. Dan hal ini membuat saya bertanya sebenarnya dia mencintai pasangannya atau tidak.
Berhati-hatilah di dalam memilih pasangan hidup karena Tuhan membenci perceraian di dalam pernikahan. Apa yang telah disatukan Tuhan di dalam pernikahan tidak boleh dipisahkan oleh manusia. Hal ini yang membuat saya sangat sulit menyukai seorang perempuan, karena saya ingin perempuan yang saya sukai itu yang pertama takut akan Tuhan dan yang kedua merupakan yang terbaik untuk saya, terbaik disini bukan berarti sempurna akan tetapi dapat membuat diri saya tetap menjadi diri saya. Kalau diingat-ingat lagi ke belakang, pacaran saya yang pertama itu menurut saya kurang benar di hadapan Tuhan, selain cara pacarannya yang salah, saya juga tidak dapat menjadi diri saya sendiri, karena takut dia marah apapun yang diinginkan saya penuhi jadinya kadang kala saya tersiksa sendiri. Dan mungkin karena keiinginan saya itu Tuhan tidak mengijinkan saya berpacaran lagi setelah saya putus walaupun jujur kadang kala saya iri melihat teman yang begitu mudahnya mencari pacar akan tetapi untungnya Tuhan selalu mengingatkan saya, kalau saya ingin keinginan saya terwujud maka saya tidak boleh sembarangan menyukai orang biarlah Tuhan yang menyediakan yang terbaik untuk saya. Saat ini saya bersyukur karena saya saat ini menyukai seorang perempuan yang menurut saya merupakan yang terbaik di hidup saya akan tetapi semuanya saya kembalikan ke dalam tangan Tuhan, biarlah rencanaNya yang terjadi di hidup saya. GBU.
Note:Kesetiaan anda sangat menolong pasangan anda lepas dari cengkraman dosa.

0 comments:
Post a Comment