Tuesday, 1 July 2008

Kusta Jiwani

Imamat 13: 45 
Orang yang sakit kusta harus berpakaian yang cabik-cabik, rambutnya terurai dan lagi ia harus menutupi mukanya sambil berseru-seru: Najis! Najis!

Menurut kita apakah penyebab penderitaan? Ketika sakit, kita pasti menderita atau ada saudara yang meninggal, saat itu kita juga menderita. Bagaimanakah dengan dosa? apakah kita juga menderita karena dosa atau kita merasa nyaman dengan dosa?

Pederitaan dapat dikatakan menjadi tema sentral filsafat, yang mencoba mencari jawaban atas segala sesuatu. "Filsafat, terus dan terus berkembang, utamanya karena ada pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab memuaskan atas sebab penderitaan yang dialami manusia" kata seorang pengkhotbah. 

Pada saat kita tidak bisa menderita maka kita tidak akan merasa sakit. Hidup tanpa rasa sakit itu seperti orang kusta. Kaki mereka dicuil-cuil tikus pun, mereka tidak merasa sakit. Apabila kita melihat orang kusta di jalan sedang meminta-minta sedekah sementara kaki dan tangan mereka dibalut perban berdarah-darah, kita miris dengan luka-luka mereka akan tetapi mereka sendiri tidak merasakan luka-luka itu.

Kusta adalah simbol kenajisan. Secara rohani ia juga menjadi lambang orang yang seharusnya mnderita tetapi kebal, sehingga tampak tidak menderita. Mereka tidak bisa merintih. Tubuh mereka kebal terhadap derita. 

Kita yang selama ini telah banyak menderita akan tetapi tidak merasa menderita maka kita harus segera melihat hati kita. Apakah jiwa kita telah kebal untuk merintihi dosa-dosa kita. Ketika raja Daud berdosa terhadap Tuhan, jiwanya sakit. Ia merintih dan mohon dipulihkan. Ia menderita berhari-hari karena dosanya. Mari, sebelum kusta jiwani hinggap dalam diri kita, bertobatlah.

Kesaksian saya:
Dulu saya adalah orang yang kebal sekali terhadap dosa. Saya suka melakukan yang namanya dosa pornografi. Saya tahu kalau salah akan tetapi hati saya sama sekali tidak menderita. Tapi Tuhan itu baik, Ia menjamah saya dan mengingatkan saya untuk bertobat atas hal itu. Saat ini dalam hati saya ketika saya melakukan dosa ada perasaan sedih dan menderita. Dan ketika saya mulai dapat merasakan penderitaan atas dosa maka saya dapat meninggalkan dosa-dosa saya. Karena ketika kita merasa senang atas berbuat dosa maka dosa itu akan terus-menerus kita lakukan. 

Note:
Keinginan adalah setengah dari kehidupan. Ketidakacuhan adalah setengah dari kematian.

0 comments: