Monday, 21 July 2008

Menjadi Lebih Baik Karena Dibebaskan

Galatia 5: 13
"Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih."

Pada tahun 2003, OECD mengukur kecerdasan siswa-siswa sedunia dalam bidang sains, membaca, dan matematika. Hasilnya, Finlandia menjadi negara peringkat pertama. Keunggulan mereka bukan hanya dalam tiga hal itu, tapi juga pendidikan bagi anak-anak lemah mental. Intinya, Finlandia adalah negara yang punya kemampuan hebat mencerdaskan anak-anaknya. Apa kuncinya? Kualitas guru, itulah jawabannya. Paling tidak, itulah salah satu yang berperan besar. Profesi guru di Finlandia sangat dihargai walau tidak bergaji fantastis. Saingan dan saingan untuk menjadi guru di sana cukup ketat dan kemudian setelah menjadi guru, mereka bebas menggunakan metode belajar apapun, bebas memakai kurikulum rancangan sendiri, bebas menentukan buku teks pilihan sendiri. Mereka menjadi yang terbaik karena dibebaskan.

Bebas atau kebebasan kerap dikonotasikan negatif. Sebutlah seks bebas, pergaulan bebas, atau bebas semau gue. Nah, sadarkah kita bahwa kebebasan yang kita miliki dalam Kristus adalah kebebasan untuk melakukan hal yang berharga dan mulia? Dosa, dalam kerangka berpikir ilahi harus kita pahami sebagai ikatan. Dosa bukanlah ruang bagi kebebasan. Jadi, orang yang memiliki dasar dan pemahaman yang benar tentang kebebasan akan menggunakan kebebasannya untuk menjadi yang terbaik. Nah, bagaimana dengan anda? 

Kesaksian saya:
Kebebasan ya? Benar juga, ketika saya renungkan kembali saya merasa menjadi orang kristen itu sangat bebas. Ketika saya melihat agama-agama lain di dunia ini, banyak sekali aturan-aturan yang mereka tetapkan sedangkan menjadi orang kristen sangatlah sedikit aturan. Akan tetapi saya banyak melihat orang kristen, dalam hal ini saya juga termasuk, yang salah mempergunakan kebebasannya. Banyak orang kristen yang justru sering melakukan dosa. Mungkin karena sedikitnya aturan maka hal ini terjadi selain itu mungkin juga karena Tuhan berjanji untuk mengampuni semua dosa anak-anakNya yang memohon ampun kepadaNya. Akan tetapi sebagai anak-anak Tuhan, kita perlu ingat bahwa memang Tuhan Yesus mati di kayu salib untuk menebus semua dosa orang yang percaya kepadaNya namun Tuhan Yesus juga adalah Tuhan yang maha adil, Dia menghukum orang-orang yang berbuat dosa. Dia sangat membenci dosa terutama jika dosa itu dilakukan oleh anak-anakNya. 

Sebagai anak-anak Tuhan kita harus bersyukur kalau Tuhan memberikan kepada kita sebuah kebebasan untuk melakukan segala sesuatu. Akan tetapi kita perlu mengingat bahwa jangan sampai kebebasan kita itu justru menghancurkan kita melainkan biarlah kebebasan yang Tuhan beri untuk hidup kita ini menjadi berkat bagi kita, orang-orang di sekitar kita, dan memperdalam hubungan kita dengan Tuhan. Misalnya, dalam hal berdoa. Kita sebagai anak-anak Tuhan tidak ditentukan oleh Tuhan kita mau berapa kali berdoa dalam sehari, kita tidak berdoa pun juga tidak masalah akan tetapi yang menjadi masalah ketika kita tidak berdoa berarti kita tidak bertemu Tuhan secara pribadi. Dan apakah kita dapat bertahan hidup di dunia ini jika kita tidak berkomunikasi dengan Tuhan? Apakah kita dapat memperoleh apa yang kita harapkan jika kita tidak mengatakannya kepada Tuhan? Apakah kita dapat memilih jalan dengan benar ketika kita tidak bertanya kepada Tuhan keinginannya di dalam hidup kita? Jadi gunakanlah kebebasan yang Tuhan berikan kepada kita dengan sebaik-baiknya. Karena ketika kita menggunakannya dengan baik maka kebebasan akan membuat kita menjadi yang terbaik. GBU.

Note:
Saya belajar bahwa lingkungan mempengaruhi saya, tetapi saya harus bertanggung jawab atas semua yang saya lakukan.

0 comments: